JAKARTA - Era pertanian tradisional yang mengandalkan tenaga fisik sepenuhnya kini mulai bergeser ke arah digitalisasi dan mekanisasi di pelosok Kabupaten Rembang. Transformasi ini terbukti bukan sekadar gaya hidup, melainkan solusi nyata dalam mendongkrak kesejahteraan ekonomi keluarga petani di tingkat akar rumput. Dengan mengadopsi teknologi mutakhir, efisiensi kerja meningkat tajam sementara biaya operasional dapat ditekan seminimal mungkin. Hasilnya, profesi petani kini kembali menjadi primadona dengan potensi penghasilan yang kompetitif, membuktikan bahwa sentuhan inovasi pada lahan sawah mampu mengubah nasib masyarakat pedesaan menjadi lebih mandiri dan sejahtera.
Capaian Manis Panen Raya di Desa Mojorembun
Pemanfaatan kemajuan teknologi pertanian membuahkan hasil manis bagi petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori. Keberhasilan ini terpotret jelas dalam acara panen raya padi yang digelar Kamis bersama Bupati Rembang Harno. Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras masyarakat dalam mengadopsi cara-cara baru dalam bercocok tanam yang lebih efisien.
Dalam momen tersebut, petani setempat mencatat keuntungan hingga sekitar Rp30 juta per hektare, dalam satu musim tanam. Angka ini merupakan sebuah lonjakan yang sangat berarti bagi stabilitas ekonomi desa. Keberhasilan Mojorembun diharapkan menjadi mercusuar bagi desa-desa lain di wilayah Kecamatan Kaliori untuk segera beralih ke sistem pertanian berbasis teknologi.
Modernisasi Melalui Alsintan dan Teknologi Drone
Kunci utama di balik kesuksesan panen raya kali ini adalah keberanian para petani untuk meninggalkan cara lama dan merangkul mekanisasi. Ketua Kelompok Tani Budi Luhur Desa Mojorembun, Karyono menjelaskan, panen kali ini memanfaatkan berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Penggunaan mesin ini mampu mempercepat waktu kerja dan mengurangi potensi kehilangan hasil saat panen.
Integrasi teknologi yang digunakan mencakup berbagai lini produksi. Mulai dari combine harvester, transplanter roda empat, hingga drone yang digunakan untuk penyemprotan pupuk dan pestisida. Modernisasi tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas hasil panen. Khusus penggunaan drone, petani merasa sangat terbantu karena presisi penyemprotan yang lebih akurat dan hemat waktu dibandingkan metode manual.
Analisis Kalkulasi Keuntungan dan Pendapatan Petani
Efisiensi yang diciptakan oleh alsintan berdampak langsung pada selisih keuntungan bersih yang diterima oleh para petani. Disampaikan, produksi padi dalam satu hektare mencapai 6.700 kilogram. Dengan harga gabah kering panen (GKP) Rp7.100 per kilogram, total pendapatan kotor petani mencapai Rp47.570.000. Angka pendapatan kotor ini tergolong sangat baik untuk pasar gabah saat ini.
Setelah dikalkulasi dengan biaya operasional, margin keuntungan yang didapat tetap menunjukkan angka yang menggembirakan. “Biaya produksi satu hektare sekitar Rp17.512.000. Setelah dikurangi biaya tersebut, petani memperoleh keuntungan Rp30.038.000. Alhamdulillah, petani modern sekarang penghasilannya bisa setara sekitar Rp7,5 juta per bulan,” terang Karyono. Kalkulasi ini menunjukkan bahwa bertani secara modern mampu memberikan taraf hidup yang layak bagi keluarga di pedesaan.
Dukungan Pemerintah Daerah dalam Penguatan Alsintan
Pemerintah Kabupaten Rembang memandang keberhasilan di Mojorembun sebagai buah dari konsistensi program bantuan alat pertanian yang selama ini didistribusikan. Bupati Rembang Harno mengaku senang melihat capaian tersebut. Menurutnya, tingginya hasil produksi dan harga jual gabah tak lepas dari konsistensi pemerintah, dalam mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alsintan.
Bupati berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan bantuan alat modern ini ke wilayah lain agar terjadi pemerataan kesejahteraan di seluruh Rembang. “Saya yakin, ke depan semua desa akan tercukupi kebutuhan alsintannya, karena setiap tahun pemerintah memberikan bantuan. Saya minta alsintan yang sudah diberikan dirawat dan dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya. Pemeliharaan alat menjadi poin penting yang ditekankan agar bantuan pemerintah dapat berumur panjang dan terus memberikan manfaat ekonomi.
Kolaborasi Penanganan Infrastruktur Irigasi Strategis
Selain masalah mekanisasi, infrastruktur dasar seperti jaringan irigasi tetap menjadi perhatian utama untuk menjamin keberlanjutan masa tanam berikutnya. Bupati menanggapi usulan petani terkait normalisasi jaringan irigasi di desa setempat sebagai langkah krusial untuk mendukung produktivitas lahan yang sudah menggunakan teknologi modern.
Penanganan irigasi ini direncanakan akan melibatkan lintas otoritas agar pembiayaannya lebih efektif dan cepat terealisasi. Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun pemerintah pusat, agar penanganan irigasi dapat direalisasikan melalui skema kolaborasi pendanaan. “Mana yang bisa ditangani daerah akan kita ambil. Kalau bisa masuk provinsi, kita dorong ke provinsi. Kalau pusat yang bisa masuk, kita kolaborasi,” pungkasnya. Sinergi ini diharapkan menjadi penutup yang sempurna bagi upaya mewujudkan Mojorembun sebagai pusat lumbung pangan modern di Kabupaten Rembang.