BBM

Harga BBM Turun di Seluruh SPBU Berlaku Mulai 1 Ramadan 2026

Harga BBM Turun di Seluruh SPBU Berlaku Mulai 1 Ramadan 2026
Harga BBM Turun di Seluruh SPBU Berlaku Mulai 1 Ramadan 2026

JAKARTA - Kabar gembira menyelimuti masyarakat Indonesia tepat pada momentum sakral awal bulan suci. Seiring dengan ketetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026, pemerintah bersama para penyedia jasa energi secara resmi memberlakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) ke arah yang lebih rendah. Penurunan harga ini serentak terjadi di seluruh SPBU di tanah air, mulai dari operator pelat merah Pertamina hingga perusahaan swasta seperti Shell, BP AKR, dan Vivo. Kebijakan ini diharapkan menjadi kado bagi masyarakat dalam meringankan biaya transportasi dan logistik selama menjalankan ibadah puasa di tengah dinamika ekonomi global.

Kado Manis di Hari Pertama Puasa

Langkah penurunan harga ini diambil setelah melalui evaluasi rutin terhadap tren harga minyak mentah dunia dan nilai tukar mata uang domestik. Bagi konsumen, penurunan ini bukan sekadar angka di papan SPBU, melainkan angin segar bagi daya beli rumah tangga yang biasanya meningkat menjelang bulan Ramadan. Dengan turunnya beban biaya operasional kendaraan, diharapkan harga komoditas pokok lainnya juga dapat tetap stabil dan terkendali.

Pemerintah melalui kementerian terkait memastikan bahwa pasokan BBM dalam kondisi aman selama masa penyesuaian ini. Penurunan harga yang bertepatan dengan 1 Ramadan 2026 menjadi simbol empati sektor energi terhadap kebutuhan masyarakat yang tinggi akan mobilitas dan distribusi barang selama bulan suci hingga persiapan menyambut Idul Fitri mendatang.

Rincian Penurunan Harga di SPBU Pertamina

PT Pertamina (Persero) sebagai operator utama negara telah merilis daftar harga terbaru yang mulai berlaku efektif pada 19 Februari 2026. Penurunan harga ini mencakup berbagai jenis produk nonsubsidi yang populer di kalangan masyarakat. Untuk wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax kini dibanderol sebesar Rp 12.100 per liter, turun cukup signifikan dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 12.950 per liter.

Tidak hanya Pertamax, varian bahan bakar berkualitas tinggi lainnya juga mengalami penyusutan harga. Pertamax Green 95 yang sebelumnya dijual seharga Rp 13.900 kini turun menjadi Rp 13.150 per liter. Sementara itu, bagi pengguna kendaraan diesel, Pertamina Dex kini dihargai Rp 13.400 per liter dari yang sebelumnya Rp 14.150 per liter, dan Dexlite turun menjadi Rp 12.700 per liter dari harga lama Rp 13.550 per liter. Produk Pertamax Turbo juga mengalami koreksi menjadi Rp 13.500 per liter dari harga semula Rp 14.400 per liter.

Persaingan Harga di SPBU Swasta

Langkah Pertamina dalam menurunkan harga segera diikuti oleh jajaran operator swasta lainnya. Hal ini menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan memberikan banyak pilihan bagi konsumen. Shell Indonesia, misalnya, melakukan penyesuaian pada produk unggulannya. Harga Shell Super kini turun menjadi Rp 12.250 per liter dari sebelumnya Rp 13.100 per liter. Produk Shell V-Power kini dipatok seharga Rp 13.250 per liter, menurun dari harga lama Rp 14.200 per liter. Adapun produk diesel mereka, Shell V-Power Diesel, kini dibanderol Rp 13.600 per liter.

Operator lain seperti BP AKR juga tidak ketinggalan dalam melakukan penyesuaian harga demi menjaga loyalitas pelanggan. Produk BP 92 kini dihargai Rp 12.150 per liter, bersaing ketat dengan harga Pertamax. Sementara BP Ultimate turun menjadi Rp 13.200 per liter dan BP Ultimate Diesel kini berada di angka Rp 13.500 per liter. Di sisi lain, SPBU Vivo yang dikenal dengan produk Revvo-nya juga memangkas harga; Revvo 92 kini menjadi Rp 12.050 per liter dan Revvo 95 turun menjadi Rp 13.100 per liter.

Dampak bagi Mobilitas dan Ekonomi Masyarakat

Penurunan harga BBM secara massal ini diprediksi akan memberikan efek domino yang positif bagi perekonomian nasional. Dengan biaya bahan bakar yang lebih murah, sektor transportasi umum dan logistik dapat menekan biaya operasional mereka. Hal ini sangat krusial mengingat arus pengiriman barang dan bahan pangan mengalami peningkatan drastis selama bulan Ramadan. Masyarakat yang merencanakan perjalanan jauh atau mudik lebih awal juga akan merasakan manfaat langsung dari kebijakan ini.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan penurunan harga ini sangat tepat waktu. Di tengah tantangan inflasi, pengurangan biaya di sektor energi dapat menjadi instrumen efektif untuk menjaga stabilitas harga barang di pasar. Selain itu, dengan adanya transparansi harga dan penyesuaian yang rutin dilakukan, kepercayaan publik terhadap tata kelola energi nasional semakin meningkat.

Komitmen Ketersediaan Stok Nasional

Meskipun harga mengalami penurunan, pemerintah memberikan instruksi ketat kepada seluruh badan usaha penyalur BBM untuk tidak mengurangi kualitas layanan dan ketersediaan stok. Pasokan di tingkat SPBU harus dipastikan lancar, terutama di jalur-jalur utama mudik dan area pemukiman padat penduduk. Pertamina dan operator swasta lainnya menyatakan kesiapan infrastruktur mereka untuk melayani peningkatan permintaan yang mungkin terjadi akibat penurunan harga ini.

Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam menggunakan bahan bakar dan memilih jenis BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan mereka guna menjaga performa mesin serta mendukung upaya pengurangan emisi. Dengan harga yang lebih terjangkau, diharapkan kesadaran masyarakat untuk beralih ke bahan bakar yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan juga akan semakin tinggi selama bulan suci ini.

Perubahan harga yang berlaku mulai 1 Ramadan 2026 ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi ketahanan energi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Transparansi harga yang terus dijaga oleh pemerintah dan badan usaha menjadi bukti komitmen bersama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia di hari yang fitri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index