3x3 Putri 2026

FIBA Umumkan Daftar Kota Tuan Rumah Seri 3x3 Putri 2026 Global

FIBA Umumkan Daftar Kota Tuan Rumah Seri 3x3 Putri 2026 Global
FIBA Umumkan Daftar Kota Tuan Rumah Seri 3x3 Putri 2026 Global

JAKARTA - Persaingan bola basket 3x3 putri dunia memasuki babak baru setelah FIBA secara resmi mengumumkan daftar awal kota tuan rumah untuk FIBA 3x3 Women's Series musim 2026. 

Pengumuman ini menjadi penanda bahwa kalender kompetisi internasional cabang 3x3 putri kian matang dan tersebar luas di berbagai kawasan strategis, khususnya Asia dan Eropa.

Rangkaian turnamen tersebut tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan para pebasket putri terbaik dunia, tetapi juga mencerminkan perluasan jangkauan dan penguatan fondasi kompetisi 3x3 secara global. 

Dalam pernyataan resminya, Direktur Pelaksana 3x3 FIBA, Alex Sanchez, menegaskan ambisi federasi untuk terus menjaga kualitas kompetisi.

"FIBA 3x3 Women's Series terus menetapkan standar tertinggi bagi bola basket 3x3 putri di seluruh dunia," kata Direktur Pelaksana 3x3 FIBA Alex Sanchez, dalam laman FIBA 3x3, Selasa.

Musim 2026 dipastikan akan menghadirkan atmosfer kompetitif di berbagai kota besar dengan karakter dan basis penggemar yang berbeda. Dari Asia Timur hingga Eropa Barat, setiap seri dirancang untuk memperkuat eksistensi bola basket 3x3 putri sebagai cabang yang dinamis, cepat, dan semakin diminati.

Pembuka Musim di Asia

FIBA telah mengonfirmasi daftar awal kota tuan rumah yang akan menjadi bagian dari musim 2026, dengan Shanghai sebagai lokasi final musim. Keputusan tersebut sekaligus menegaskan peran penting Asia dalam perkembangan 3x3 putri.

Turnamen dimulai di Chengdu, China, pada 1-2 Mei 2026. Kota ini akan menjadi panggung pertama bagi para tim elite untuk mengawali perburuan poin dan reputasi di musim baru. Setelah itu, seri akan berlanjut ke Manila, Filipina, pada 7-8 Mei dan kemudian menuju Shanghai, China, 16-17 Mei.

Tiga seri pembuka tersebut menandai besarnya fokus FIBA terhadap pengembangan bola basket 3x3 putri di kawasan Asia. Kawasan ini dinilai memiliki pertumbuhan pesat, baik dari sisi partisipasi atlet maupun antusiasme publik.

Alex menambahkan bahwa rangkaian turnamen itu mencerminkan komitmen kuat FIBA dalam memajukan peran perempuan di dunia bola basket, serta membuka akses bagi atlet untuk berkompetisi di tingkat internasional. Dengan kalender yang tersebar, peluang eksposur bagi pemain muda dan tim berkembang pun semakin terbuka.

Fase Padat di Eropa dan Sekitarnya

Memasuki Juni, lanjut dia, turnamen akan memasuki fase padat dengan rangkaian turnamen di Wina (Austria), Orleans dan Poitiers (Prancis), Amsterdam (Belanda), Sumgait (Azerbaijan), serta Ulaanbaatar (Mongolia).

Jadwal tersebut mencerminkan jangkauan global seri 3x3 putri yang terus berkembang. Kota-kota tersebut dikenal memiliki infrastruktur olahraga yang memadai dan pengalaman menjadi tuan rumah ajang internasional.

Di Wina dan Amsterdam, misalnya, atmosfer urban yang kental sangat selaras dengan karakter permainan 3x3 yang cepat dan atraktif. Sementara itu, kehadiran kota seperti Ulaanbaatar menunjukkan bahwa FIBA terus membuka ruang bagi negara-negara dengan perkembangan signifikan dalam bola basket 3x3.

Dengan jadwal yang berdekatan, tim-tim peserta dituntut menjaga konsistensi performa sekaligus strategi rotasi pemain. Format 3x3 yang intens dan menuntut fisik prima membuat manajemen kebugaran menjadi faktor krusial sepanjang musim.

Ekspansi ke Berbagai Kota Strategis

Lalu pada Juli, ajang itu akan singgah di Marseille (Prancis), Marbella (Spanyol), Baku (Azerbaijan), dan Batam (Indonesia). Kehadiran Batam menjadi sorotan tersendiri karena menunjukkan kepercayaan FIBA terhadap kapasitas Indonesia sebagai tuan rumah kompetisi internasional 3x3 putri.

Kota-kota tersebut mewakili kombinasi pasar tradisional bola basket Eropa dan pasar berkembang di Asia Tenggara. Dengan demikian, seri ini tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga perluasan basis penggemar dan peningkatan nilai komersial olahraga 3x3 putri.

Sementara, ujar dia, Agustus akan diwarnai persaingan di Tokyo dan Takasaki (Jepang), Singapura, Bangkok (Thailand), Sea Breeze (Azerbaijan), Bordeaux (Prancis), serta Debrecen (Hungaria).

Rangkaian di bulan Agustus menjadi salah satu periode terpadat dalam kalender musim. Penyebaran lokasi di Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Eropa Tengah menegaskan karakter global turnamen ini. Setiap kota membawa identitas dan pangsa pasar berbeda, yang pada akhirnya memperkaya pengalaman kompetitif para atlet.

Selain sebagai ajang perebutan gelar, seri ini juga menjadi sarana penguatan diplomasi olahraga. Interaksi lintas negara dan budaya melalui bola basket 3x3 memberi dampak luas terhadap pengembangan olahraga perempuan.

Penutup Musim di Shanghai

Alex menambahkan, musim 2026 akan ditutup melalui FIBA 3x3 Women's Series Project Redwings Shanghai Final, pada 5-6 September. Penunjukan Shanghai sebagai tuan rumah final mempertegas posisi kota tersebut sebagai salah satu pusat penting 3x3 dunia.

Final musim menjadi klimaks dari perjalanan panjang tim-tim peserta. Hanya tim dengan akumulasi poin dan konsistensi terbaik yang akan tampil di panggung puncak tersebut. Atmosfer kompetisi dipastikan memuncak, mengingat reputasi dan prestise yang dipertaruhkan.

Dia juga menyatakan, FIBA masih akan menambahkan sejumlah kota tuan rumah lain dalam waktu dekat. Artinya, kalender musim 2026 masih berpotensi berkembang dan menghadirkan kejutan tambahan bagi penggemar bola basket 3x3 putri.

Dengan sebaran kota di Asia dan Eropa serta rencana penambahan lokasi baru, FIBA 3x3 Women's Series 2026 diproyeksikan menjadi salah satu musim paling luas dan kompetitif sepanjang sejarah penyelenggaraannya. 

Standar tinggi yang ditegaskan FIBA tidak hanya berlaku pada aspek teknis pertandingan, tetapi juga pada kualitas penyelenggaraan dan pengalaman global yang ditawarkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index